
Bu Dewi, 38 tahun, tidak pernah membayangkan dirinya akan didiagnosis penyakit jantung koroner meski selama ini merasa cukup sehat. Biaya tindakan dan masa pemulihan yang panjang membuatnya sadar bahwa asuransi kesehatan biasa saja tidak selalu cukup untuk situasi seperti ini.
Kenapa Penyakit Kritis Perlu Proteksi Tersendiri
Penyakit kritis seperti kanker, stroke, gagal ginjal, atau serangan jantung sering memerlukan biaya pengobatan jangka panjang dan berulang, di luar biaya rawat inap murni. Selain itu, masa pemulihan yang panjang juga bisa membuat penghasilan terhenti, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
Proteksi penyakit kritis umumnya memberikan santunan tunai sekaligus saat diagnosis ditegakkan, terlepas dari besaran biaya pengobatan aktual, sehingga dananya bisa digunakan secara fleksibel — baik untuk biaya pengobatan lanjutan, kebutuhan hidup sehari-hari, maupun mencari second opinion medis.
Kapan Waktu Terbaik Memilikinya
Sama seperti proteksi kesehatan lain, premi proteksi penyakit kritis dihitung berdasarkan usia dan kondisi kesehatan saat pengajuan — semakin dini diajukan selagi sehat, semakin ringan preminya dan semakin besar peluang disetujui tanpa pengecualian tambahan.
Bu Dewi kini mendorong keluarganya yang lain untuk mempertimbangkan proteksi serupa, alih-alih menunggu sampai ada gejala atau diagnosis terlebih dahulu.
Chat dengan Lina Hartati di WhatsApp